Kekitaan



Kau tak pernah tahu rasanya jadi aku.

Menjadi anak semata wayang yang selalu terkekang kasih sayang orang tua.

Menjadi anak tunggal tanpa pernah tahu indahnya hidup dengan saudara-saudariku yang semoga kini tenang di sisiNya.

Lalu saat aku menemukanmu hingga hati dan rasio sepakat menunjukmu sebagai saudara, kau lebih memilih orang lain yang belum tentu mencintai lebih dariku.

Oke, maaf. Mungkin aku berlebihan dalam kekitaan ini, tapi maaf yang lebih besar karena, sekali lagi, hati dan rasioku telah menunjukmu dan sangat sulit bagiku menciptakan kesepakatan baru antara mereka berdua.

Mungkin aku terlalu egois karena itu semua, bukannya ingin menjadikanmu milikku, cukup sekedar anggap aku sebagai adikmu, kak.

Aku begitu marah mendengar ucap pujimu tentang mereka. Untung saja rasioku selalu menjadi penenang bagi hatiku saat mendidih. Membolak-balik redaksi, mengotak-atik keadaan hingga terciptalah suasana dan jagat rayaku sendiri yang hanya aku dan khayalku mampu menikmati.

Sedih kadang melihat tingkahmu meniadakan kehadiranku.

Saat kau asik dengan mereka hingga lupa bahwa aku yang membawakan meja dan kursi makan untuk kalian berbincang.

Aku begitu ingat, di satu kesempatan berbeda kau pernah menanyakan satu pertanyaan yang kemudian kau jawab sendiri: siapa kamu? Kau tak lebih dari anak kecil yang egois dan banyak maunya.

Maafku atas segala
Terimakasihku untuk semua.

Sera Barat (@dapurku), 10 April 2017 21:20

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.