Masih Sepagi ini



Pukul Empat pagi, ini hari Sabtu, 11 Januari 2020. Seorang teman menyebut-nyebut namamu, menyentuh beberapa bagian tubuhmu. Membangunkan. Handphone yang tergeletak di bawah meja diraihmu. “Masih jam empat” kamu membatin. Semua tampak gelap, kesadaranmu melayang entah ke mana.
Sekarang sudah pukul tujuh lebih 10 menit. Dan segala pikiran tentang kesia-siaan yang sedang kau lakukan kembali memenuhi pikiranmu.
“Bak, ini begitu sia-sia, sama sekali tidak berguna. Aku tidak mungkin kemudian menjadi seorang desainer, videografer atau sebangsanya. Aku di sini hanya berjibaku dengan hal-hal semu yang bagiku sama sekali tidak berguna. Oke, mungkin suatu saat aku akan mengedit banyak video karena bekerja sama dengan teman-temanku di rumah yang ingin menjadi ini dan itu atau sebagainya. Tapi modal untuk itu aku sudah mendapatkannya, aku hanya tinggal melakukannya. Kalau kau ingin aku mendapat selembar kertas yang orang-orang menjadikannya simbol bahwa aku sudah lulus kuliah, ya, itu masuk akal. Aku belum memilikinya. Aku hanya memiliki selembar kertas yang juga bernama Ijazah sekalipun itu hanya program Diploma. Dan bagiku itu cukup, karena aku sudah mendapatkan apa yang aku inginkan. Tapi Ijazah sarjana? Aku merasa belum membutuhkannya. Dan, per hari ini, itu tidak masuk dalam kosakata perjalanan hidupku.”
“Om, kamu mengerti tentang itu semua, akhirnya kamu menginginkanku menjadi mahasiswa lapangan yang tidak hanya berproses di dalam dan lingkungan kampus. Kamu ingin aku menjadi lebih kuat dengan menjadi orang lapangan. Tapi kamu tidak pernah tahu, om, bagaimana lingkungan di sini yang sangat tidak mendukungku menjadi seperti yang kamu katakan di tempat kita minum kopi sore itu.”
Batinmu lagi-lagi menolak keadaan yang kamu belum bisa berdamai dengannya.
“Ma’, alasan terbesarku tetap di sini adalah sosokmu. Kalau bukan karena permintaanmu itu, mungkin aku sudah di rumah, mengisi beberapa acara kelas menengah, menulis beberapa cerita, pendapat-pendapatku tentang kejadian sekitar bahkan nasional dan internasional, dan bahkan mungkin sedang menelepon orang-orang di penerbitan untuk buku-buku yang akan segera terbit dengan namaku di sampul depannya. Dan mungkin akan kau saksikan namaku terpampang di surat-surat kabar baik online maupun cetak. Mungkin hari ini kamu sudah bisa menonton video-video hasil rekaman dan editanku bersama teman-teman. Atau mungkin kamu sudah bisa mendengar suara Mak Qurasy dan Num Seli yang sudah selesai kusatukan dengan alat-alat perkusi seperti yang mereka rencanakan di rumah num seli pagi itu. Bisa juga hari ini aku sedang tidak di rumah karena sudah berangkat pagi-pagi buta untuk memenuhi kebutuhan teman-teman PK dan PAC yang pukul empat dini hari tadi meneleponku. Atau mungkin hari ini aku sedang duduk di kantor SMKku untuk mengerjakan beberapa hal yang cukup sepele dan mempersiapkan materi yang akan kuajarkan pada siswa-siswa di sana. Setidaknya mungkin kau sedang bersamaku hari ini, melihatku sedang mengepal sejumput pupuk yang kemudian kulemparkan ke batang-batang jagung yang tumbuh semata kaki.”
Kamu memikirkan itu semua begitu lama, mengutuk keadaan yang sama sekali tidak kamu inginkan. Mengangankan keinginan yang sedari dulu kamu impikan dan mengabaikan tugas-tugas kampus yang sangat kamu benci itu. Masih sepagi ini, dan otakmu sudah penuh dengan sampah.

Malang, 11 Januari 2020

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.