Ingin Pulang (lagi)
Oke, kamu break Podomoromu dulu,
sejak beberapa waktu lalu kamu menggunakan metode podomoro, kamu masih sering
melanggarnya. Tapi tak apa, anggap saja ini awal, setidaknya menghibur dirimu
dengan tidak mengatakan bahwa kamu gagal menerapkan metode itu.
Di menit ke dua puluh, kamu letakkan
tetikus yang sedari tadi kamu klik kanan-kiri, geser sana-sini. Kamu ambil
handphonemu, jempol geser atas bawah, lihat-lihat beranda instagram, sebab
memang tidak yang mengirim pesan ke akunmu.
“Ketika aku menulis ini, aku sedang
menlanggar podomoroku” batinmu.
“persetan dengan teknik podomoro,
aku ingin menumpahkan emosiku dulu” lanjutmu.
Sedang masyuk melihat-lihat
postingan di Instagram, kamu melihat sebuah foto hasil postingan Alimantaka,
ya, Om Alimantaka, kamu tidak kenal dia, kamu hanya tahu dia karena kebetulan
satu grup Whatsapp di Lingkar Maiyah Sumenep, dan dia sama sekali tidak tahu
siapa kamu apalahi mengenalmu.
Dalam foto itu ada sesosok wajah
perempuan, dengan posisi sedang asyik membatik, entah bentuk apa yang
digambarnya, dia cantik, kalau dia yang mengajari, maulah diajarin, suara itu
hanya kamu mendengarnya.
Kamu mengingat lagi luka yang selama
ini kamu berusaha memendamnya, harap yang bertransformasi menjadi ratap, sebab
ekspektasi yang tak pernah tereksekusi. Lagi-lagi kamu ingin pulang,
beraktifitas seperti orang kebanyakan, seperti apa yang kamu inginkan, seperti
setiap hal yang kamu dambakan, meski sebenarnya kamu tidak tahu aktifitas
seperti apa yang benar-benar kamu inginkan itu.
Kamu hanya
ingin pulang, menyudahi derita yang kau sugestikan pada alam bawah sadarmu
bahwa ini hanyalah ujian. Ini semua adalah medan perjuangan, ini semua adalah
tempatmu menempa diri. Tapi keinginan tetaplah keinginan, kesenangan selalu
mendasari aktifitas untukmu yang begitu emosional dan sangat bergantung pada
gerak-gerik hati dan emosi.
Ini sekadar
curhatanmu yang tidak tahu harus kau utarakan pada siapa, selain pada
kertas-kertas lusuh, atau layar komputer lipatmu yang kini sudah begitu tua dan
usang.
Selamat pagi
menjelang siang, selamat menikmati hidup yang begitu brengsek dan kamu dipaksa
untuk menikmatinya ini.
Kontrakan
teman, Malang, 05 Januari 2020

Tidak ada komentar: