Ingin Punya Istri Penyabar
Aku ingin punya istri penyabar
yang tidak suka memarahi anakku nanti
Kalau aku ditanya tentang
kriteria istri yang kuinginkan, yang pertama akan kusebut adalah, dia harus
penyabar, gak dikit-dikit marahin anak.
Ini masih sangat pagi, matahari masih malu-malu
mengintip di antara pegunungan dan awan yang sedikit pekat. Burung-burung yang
biasa menyanyi, mengajak dedaunan menari juga baru selesai menguap mengusir
kantuknya. Dan sepagi ini, Ibumu sudah memarahimu. Melesatkan kata dengan
intonasi tinggi tepat ke arahmu. Menusuk tepat di inti jantung dan hatimu dan
terngiang hingga beberapa saat kemudian.
“Aku tidak mau punya istri yang suka memarahi anakku”
kamu membatin.
Sementara motormu melaju, mengantarkan sekumpulan
daging dan tulangmu ke suatu tempat, membawa pria setengah tua di belakangmu
yang biasa kau sebut-sebut sebagai sosok Ayah. Pikiranmu mulai melayang,
membawa perempuan-perempuan yang pernah dan sedang ada di sekitar hidupmu.
Kamu mengingat kembali sosok perempuan penyabar, sekali
lagi penyabar, yang pernah datang menjadi sosok yang kau ajak mengkhayal
tentang masa depan, ketika nanti kau pulang terlambat dan dia menunggumu di
ruang tamu setelah menidurkan anakmu. Tentang kau yang menelponnya suatu hari
karena tidak bisa menemaninya buka puasa di rumah. Kau ingat kembali sosok yang
kau pikir begitu sempurna untuk menjadi sosok seorang Ibu itu. Kau hadirkan
kembali dia yang kini harus mengubah cara pandangnya tentang bahagia menjadi
menjalani hari-harinya dengan suaminya dari menemanimu menghabiskan hari dengan
segala canda dan tawa.
Sejurus kemudian, perempuan yang pernah kau tolak
karena kau belum bisa melupakan perempuan yang mengkhianati hubunganmu datang
bertandang dalam pikiranmu. Kamu mencoba menerka, diakah sosok yang kamu cari?
Yang akan tetap sabar menghadapi anak-anak nakalmu nanti? Diakah sosok Ibu yang
dengan telaten akan menjaga dan merawat anak-anakmu dengan segala kasih
sayangnya dan hanya memarahi mereka sesekali? Perempuan yang kini kau mulai
mencintainya dan kau yakin dia juga masih mencintaimu.
Atau jangan-jangan perempuan yang beberapa bulan lalu
sering membantumu melupakan tangismu dengan tangisnya? Yang beberapa kali
menumpahkan tetes-tetes air matanya yang menganak sungai di bahumu? Perempuan
yang dengan santai kau sapa dia dengan kalimat “selamat pagi pacar teman”?
Kamu bingung tentang itu semua, kamu belum tahu metode
yang tepat untuk mengetahui perempuan mana yang hanya akan memarahi anak-anakmu
sesekali dan sering kali menjaganya dengan cinta dan kasih sayang.
Kau datangkan lagi perempuan yang untuk kedua kalinya
menyatakan perasaanmu padamu. Kemudian kau jemput pula perempuan manis yang
beberapa waktu lalu sangat denganmu dan kamu sempat ingin memilikinya.
Di balik itu semua, kamu menyimpan satu alasan yang
sangat sederhana untuk disebutkan namun begitu pelik mendapatkannya. Kamu hanya
tidak mau anak-anakmu nanti menjadi anak yang emosional berlebih, murung,
menyimpan banyak masalah dan tidak tahu harus berbagi dengan siapa, selalu
overthinking dan segala hal buruk yang kamu alami hari ini. Kamu tidak ingin
anak-anakmu merasakan setiap hal buruk yang kamu rasakan sekarang, kamu tidak
ingin anak-anakmu bernasib sama malangnya denganmu.
Namun begitu, perempuan yang sering memarahimu –untuk
kesalahan kecil sekalipun—itu tetaplah ibumu, dan kau tetap menyayanginya dan
mencintainya sepenuh hati.
Sumenep, 03 Januari 2020.

Tidak ada komentar: