Interaksi Spontan Kaum Bapak-Bapak.
Pagi ini saya pergi ke sebuah pesantren untuk menemani adik saya mengikuti tes akademik untuk kuliahnya. Sekitar jam setengah delapan, kami berangkat. Di jalan saya tanya adik saya, "nanti sampai jam berapa, Im?" Namanya Iim.
"Sekitar jam dua belas, bos." Jawabnya.
Saya membatin "Apa yang akan saya lakukan beberapa jam kedepan? Apa iya main game terus?"
***
Setengah jam perjalan dan kamipun sampai di tujuan. Kami sampai di depan gerbang kampus putri. Adik saya masuk, saya memutar balik motor menuju ke sebuah pohon yang cukup rindang, saya fikir bisa berteduh disana untuk beberapa waktu kedepan. Baru saya berbalik arah, saya melihat beberapa orang duduk di sebuah tempat. Saya kira itu memang tempat tunggu bagi orang-orang yang sedang mengantarkan anak, saudara, kerabat atau siapapun ke kampus putri seperti saya. Dan akhirnya saya putuskan untuk juga menunggu adik saya disana.
Disana Ada tiga buah bangunan kayu. Satu memanjang dari selatan ke utara sekitar enam meter dengan lebar kurang lebih tiga meter. Dua lainnya lebih kecil, sekitar setengah dari yang memanjang tadi. Satu bangunan memanjang di tempat yang lebih tinggi, sedang dua lainnya di tempat lebih rendah, tepat di sebelah utara bangunan kayu memanjang.
Sesampainya di tempat itu, ada empat orang sedang duduk dengan kegiatan masing-masing. Dua orang memainkan ponsel, satu orang lagi diam dengan sebatang rokok berasap di tangannya dan yang lain hanya duduk dengan tatapan kosong, entah apa yang difikirkannya. Mereka duduk di tempat terpisah. Tiga orang di bangunan memanjang, satu lainnya di bangunan kayu kecil.
Seperti saya katakan, mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Tidak ada komunikasi, tidak ada interaksi antar semua orang itu. Sampai saya ikut duduk bergabung di bangunan kayu tersebut.
Saya ingat satu hal. Waktu saya kecil dulu, saya pernah pergi ke tempat potong rambut dengan bapak saya. Waktu itu saya belum bisa bawa motor dan keluarga saya memang belum punya motor -hanya keluarga yang lebih dari cukup yang memiliki kendaraan pribadi waktu itu-. Kala itu, Saya dan Bapak saya menggunakan transportasi umum di desa.
Saya ingat, waktu itu ada seorang bapak-bapak yang juga sedang mengantarkan anaknya untuk potong rambut. Baru saja bapak saya duduk disana, spontan terjalin komunikasi antara bapak dan bapak-bapak yang saya maksud tadi. Mulai dari menanyakan darimana asal si Bapak, hingga obrolan ringan lainnya. Entah apa topiknya, saya lupa -atau mungkin memang belum mengerti-.
Di benak saya, jika bapak saya dulu bisa berkomunikasi dengan bapak-bapak asing yang baru bertemu waktu itu, kenapa orang-orang ini tidak? Berbagai pertanyaan dan asumsi bermunculan di kepala saya. Kenapa tidak ada interaksi? apakah karena ini atau itu dan sebagianya.
Tapi asumsi dan pertanyaan-pertanyaan itu terjawab ketika seorang bapak-bapak lainnya datang dan duduk di sebelah bapak yang sedang merokok tadi. Tak disangka, interaksinya dimulai dengan pertanyaan yang sama, yaitu "sampean deri kaemmah?" (Sampean dari mana?). Ya, interaksi itu dimulai dengan menanyakan tempat asal. Dan berlanjut dengan obrolan-obrolan ringan lain seperti yang dilakukan Bapak saya dan seorang bapak di tempat potong rambut tempo silam.
Dan sejauh yang saya tau, interaksi semacam ini biasa dilakukan oleh bapak-bapak. Hehee.
15 Agustus 2018

Yaa memang biasanya kek gitu kali yaa. Aku juga sering tanya asal daerah dripada lgsung nanya nama. Hahaha.. Nice post!
BalasHapusHihii. Terima kasih. . .
HapusHarap maklum. :D