Cerita Penjual Tahu Sumedang



Televisi di pojok depan kiri sana menampilkan penyanyi jelita berbahasa jawa. Mesin bus tak mau berhenti menderu, menjadi bagian dari hiruk terminal yang selalu dan akan selalu begitu. Bus antar kota sudah cukup penuh dengan penumpang. Pak sopir sudah bersiap di belakang kemudi. Aku sedang dalam perjalan dari rumah ke kota Malang.

Seperti biasa, terminal-terminal antar kota selalu dipenuhi dengan penjual makanan pengganjal perut atau sekedar minuman dingin, hingga beberapa kali saya temui, ada yang menjual power bank, masker, dompet dan paket alat cukur.

Namanya jualan, ya untung-rugi. Kalau lagi mujur, keuntungan bisa bikin seneng anak istri di rumah, atau mungkin membeli barang keinginan, nambah modal jualan, hingga ditabung. Beda lagi kalau nasib tidak sedang berpihak pada peruntungan kita. Alih-alih menyenangkan keluarga, yang ada hanya cukup buat makan bertiga.

Yang bikin salut, adalah semangat dari para penjual ini. Bermacam cara mereka lakukan (kurasa hampir semua orang tahu ini) agar dagangan mereka terjual. Mulai dari yang hanya menawarkan ke masing-masing penumpang, meletakkan barang dagangannya di pangkuan penumpang, hingga nego halus dengan penumpang. Yang terakhir ini biasanya dilakukan oleh penjual yang kebetulan berasal dari daerah yang sama. :D

Beda lagi dengan penjual yang kutemui petang ini, kukira dia menggunakan cara yang cukup "nakal", tapi mungkin juga ini bagian dari tehnik promosi. Kurang lebih ceritanya begini.

"Tahu Sumedang... Tiga ribu...
Tahu Sumedangnya, Bu... Tiga ribu..." seorang bapak dengan kardus di lengan kirinya menawari penumpang bis.

Kebetulan aku sedang lapar, karena sejak siang tadi perutku hanya diisi dengan air, kopi kemasan dan asap rokok. Dipanggillah si Bapak olehku. Dengan cepat Bapak itu datang ke arahku.

"Berapa, pak?" Tanyaku basa-basi.
"Tiga ribu, mas." Jawab si Bapak.

Kuserahkan selembar uang lima ribuan. Dengan cepat si Bapak mengambil uang dari tanganku dan memberikan dua bungkus tahunya. Si Bapak berlalu sepersekian detik setelah menyerahkan tahunya, bahkan aku belum sempat berterima kasih atau protes karena uang lima ribuku diambilnya semua dengan ganti dua bungkus tahunya.

Aku tertawa seraya melihat punggung si Bapak yang baru saja berlalu dari hadapanku. Si Bapak menoleh sebentar, mungkin dia mendengar tawaku yang cukup nyaring.

Bapak. . . Bapak. . .
Semoga kita sama-sama senang, pak.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.