Surat Seorang Adik Untuk Kartininya

Aku selalu senang bercakap dengannya. Meski hanya via aplikasi chat, sebab dia masih bergumul dengan tugas-tugasnya di pondok.

Bahasan-bahasan receh yang kerap kali menjurus pada hal-hal serius dan krusial  menjadi obrolan paling menyenangkan. Sebab dengan bahasa yang begitu mudah dimengerti dan pemilihan diksi yang meruncingkan arti, membuatku lebih mudah mengerti setiap pembahasan yang dari hati ke hati

Kerap kami bercakap dengan berlagak seakan menjadi aktor dalam novel dan film-film. Memilih kata demi kata, memilah segala yang membuat cidera. Nasehat, curahan hati, hingga mimpi-mimpi tak ayal kami bincangkan. Saling menasehati tanpa menggurui, menceritakan isi hati untuk perbaiki diri dan mengangankan setiap mimpi seakan telah teralisasi.

Dia memang bukan saudara kandungku. Bahkan aku baru mengenalnya setelah usiaku menjadi dua digit beberapa kali. Dan sekarang, aku menganggap dia saudaraku. Kuanggap saja dia juga begitu, dan aku tidak peduli, yang pasti aku ingin tidak lepas emosi dengannya. Asumsi saudaraku padanya sudah tertancap kuat dalam spontanitasku.

Hingga untuk pertama kalinya aku merasa memiliki saudara. Yang sebenar-benarnya kakak dari adik laki-laki yang sangat rapuh. Yang tak segan mengingatkan segala lupaku, tak ragu memarahi salahku dan tak berpikir panjang untuk sekedar mengusir malasku.

Dengannya aku sering berjalan menuju kemegahan emosi, hingga tawa saja tak cukup untuk mewakili. Disela perjalanan-perjalanan penuh bahagia itu, tak jarang pula aku mengajaknya pada domensi gelap. Hingga satu waktu aku berani mengangkat suara untuk ego yang kini kusesali.

Kak, aku menyayangimu.
Satu meter lebih panjang dari sangkaanmu, satu gram lebih berat dari tuduhanmu dan satu hertz lebih sering dari dugaanmu. Dan selamanya akan selalu begitu.
Hingga lubang hitam tak lagi gelap
Hingga cahaya tak lagi terang

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.